Inflasi Kesehatan: Penyebab, Dampak & Peran Asuransi Sebagai Solusi
Inflasi kesehatan menjadi salah satu isu penting yang sering terasa di Indonesia. Meski inflasi umum per Juli 2025 tercatat hanya 2,37% year-on-year, biaya layanan medis menunjukkan tren berbeda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 mencatat indeks kelompok Kesehatan naik 1,79% year-on-year, menandakan adanya kenaikan biaya yang konsisten di sektor ini.
Selain itu, menurut survei Global Medical Trends 2025 dari WTW memperkirakan kenaikan biaya kesehatan di Indonesia bisa mencapai 19,4%, tertinggi di Asia Tenggara. Fakta ini menunjukkan bahwa inflasi kesehatan berjalan lebih cepat dibanding inflasi umum, didorong oleh perkembangan teknologi medis, harga obat, hingga meningkatnya penggunaan layanan kesehatan.
Tren inflasi kesehatan yang terus meningkat ini bukan hanya soal mahalnya layanan medis, tetapi juga menjadi tantangan baru bagi pengelolaan keuangan keluarga. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memahami apa saja penyebab inflasi kesehatan,bagaimana dampaknya terhadap stabilitas finansial rumah tangga, dan cara cerdas mengatur keuangan untuk menghadapi inflasi kesehatan.
Dilansir dari Bisnis.com, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama tingginya biaya kesehatan di Indonesia adalah ketergantungan pada impor alat kesehatan dan bahan baku farmasi.
Hal ini terlihat dari maraknya pengobatan menggunakan Artificial Intelligence, khususnya di wilayah Asia Pasifik. Hal inilah yang memengaruhi kenaikan harga perawatan dan layanan rumah sakit. Selain itu, dilansir dari Cermati, ada beberapa alasan lain kenapa biaya kesehatan terus meningkat setiap tahunnya.
Ketika permintaan dan kebutuhan akan fasilitas kesehatan melonjak, sudah pasti akan dibarengi dengan peningkatan harga layanannya. Misalnya, saat puncak penyebaran virus Corona pada beberapa tahun lalu, tidak sedikit kebutuhan medis mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
Akibat permintaan yang meningkat di satu waktu, tidak mengherankan jika stok dari sejumlah barang medis tidak mampu memenuhi permintaan. Alhasil, harganya melonjak tajam secara merata. Namun, ketika permintaan melandai, harga dari kebutuhan medis yang bersangkutan akan ikut menurun dan menjadi normal kembali.
Faktor lainnya yang membuat biaya medis meningkat adalah adanya kenaikan pada biaya produksi, baik produk ataupun jasa. Hal ini secara langsung turut meningkatkan tarif layanan atau harga jual dari produk tersebut. Misalnya, ketika ada kenaikan gaji tenaga medis maupun kenaikan pengeluaran untuk pemeliharaan fasilitas di rumah sakit. Kondisi ini sudah pasti akan meningkatkan biaya kesehatan yang akan dibebankan pada pasien.
Inflasi pada biaya medis juga kerapkali diakibatkan oleh ketersediaan sarana dan fasilitas kesehatan yang tidak sebanding dengan jumlah permintaan. Akibat kapasitas penampungan yang kurang, kenaikan tarif akan terjadi, hal ini sesuai dengan teori ekonomi supply vs demand pada umumnya.
Kondisi ketidakpastian umumnya timbul ketika terjadi krisis ekonomi, dalam situasi tersebut penyedia jasa cenderung melakukan spekulasi terkait kenaikan harga dengan meningkatkan tarif jasa atau layanannya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalisir risiko kerugian pada pihaknya.
Namun, kenaikan biaya ini tidak semata-mata didorong oleh motif mencari keuntungan. Rumah sakit sering mengemasnya dengan berbagai faktor pendukung, seperti penerapan teknologi medis terbaru, dampak pandemi, atau dinamika dalam dunia kesehatan. Dengan demikian, meskipun tarif terlihat meningkat, pelanggan sebenarnya turut membayar biaya atas peningkatan kualitas layanan dan teknologi yang digunakan.
Inflasi medis yang terus meningkat telah menyebabkan biaya pelayanan kesehatan semakin mahal. Dampaknya, tarif asuransi kesehatan baik dari sektor non-komersial maupun komersial terkerek naik. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melaporkan bahwa rata-rata industri asuransi menaikkan tarif premi asuransi kesehatan sebesar 20-30% tahun ini. Di sektor asuransi non-komersial, Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Kesehatan juga berencana menaikkan iuran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) seiring dengan rencana penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS).
Kenaikan biaya dan premi ini pada akhirnya tidak hanya membebani penyedia layanan maupun industri asuransi, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat. Bagi keluarga, pengeluaran rutin untuk kesehatan semakin meningkat, sementara alokasi untuk kebutuhan lainnya menjadi semakin terbatas. Dilansir dari beberapa sumber, berikut beberapa dampak inflasi kesehatan terhadap keuangan keluarga.
Kenaikan harga obat-obatan, tarif dokter, biaya rawat inap, dan layanan kesehatan lainnya membuat beban biaya kesehatan semakin berat, terutama bagi pasien dengan penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Untuk mengatasi dampak ini, Anda bisa mulai merencanakan keuangan sejak dini untuk mengantisipasi biaya kesehatan yang tidak terduga. Anda juga bisa membuat anggaran khusus untuk biaya kesehatan setiap bulan yang nantinya bisa digunakan untuk membeli obat ringan, vitamin, atau kunjungan ke dokter. Dengan begitu, Anda tidak akan kesulitan membayar biaya kesehatan saat dibutuhkan.
Mahalnya biaya perawatan di rumah sakit sering membuat sebagian orang untuk menunda kunjungan ke dokter. Padahal, kondisi ini bisa memperburuk kondisi kesehatan dan justru dapat meningkatkan pengeluaran di kemudian hari.
Belum lagi jika terjadi kondisi darurat seperti kecelakaan, tentu perawatan medis tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, penting juga untuk menyisihkan penghasilan ke dalam pos dana darurat yang nantinya bisa Anda gunakan untuk keperluan medis yang mendesak.
Tagihan rumah sakit yang melonjak dan kenaikan biaya asuransi kesehatan yang tidak terduga dapat menyebabkan keuangan Anda menjadi berantakan, hingga dapat menimbulkan tantangan finansial yang signifikan. Ketika tekanan finansial terjadi karena biaya kesehatan, tentu Anda perlu mengurangi alokasi pos keuangan lain seperti pendidikan, tabungan, atau dana pensiun dapat tertekan. Kondisi ini tentu akan mengganggu perencanaan finansial dalam jangka panjang.
Untuk menghadapi inflasi kesehatan yang terus meningkat, Anda perlu melakukan perencanaan keuangan secara cermat. Menyiapkan dana darurat, memanfaatkan asuransi, dan mencari program bantuan dapat membantu meringankan beban biaya medis yang terus meningkat. Dengan strategi yang tepat, dampak inflasi kesehatan pada keuangan bisa diminimalisir.
Salah satu solusi yang bisa Anda lakukan untuk hadapi inflasi kesehatan adalah dengan mempertimbangkan asuransi kesehatan sebagai bagian dari perencanaan keuangan. Asuransi kesehatan sendiri dapat membantu mengurangi beban biaya medis yang tinggi tanpa harus menguras tabungan atau aset keluarga.
Salah satu produk asuransi kesehatan yang bisa Anda pertimbangkan adalah Asuransi Mandiri Solusi Kesehatan dari AXA Mandiri. Asuransi ini memberikan manfaat penggantian biaya harian kamar rawat inap Rumah Sakit, penggantian biaya harian kamar unit perawatan intensif, penggantian biaya pembedahan, santunan meninggal dunia karena Kecelakaan, penggantian biaya transportasi ke Rumah Sakit untuk setiap rawat inap serta manfaat pengembalian premi dengan ketentuan sebagaimana diatur di dalam Polis. Pembayaran premi dilakukan secara bulanan, kuartalan, semesteran atau tahunan.
Selain itu, Anda juga memerlukan proteksi jangka panjang—agar saat masa pensiun Anda terlindungi dari kebutuhan kesehatan yang meningkat, namun penghasilan menurun. Di sinilah pentingnya mempersiapkan dana melalui program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), yang dapat membantu memastikan ketersediaan biaya kesehatan sekaligus menjaga kualitas hidup di hari tua.
Bagi yang ingin mendaftar ke dalam program DPLK, Anda bisa mendaftarkan diri ke dalam program Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) DPLK AXA Mandiri. Program ini diperuntukan bagi Anda yang ingin mengoptimalkan rencana pensiun. Dengan nilai setoran minimal mulai dari Rp100 ribu, Anda sudah bisa menikmati hari tua yang lebih sejahtera dan nyaman.
Dengan mendaftar ke dalam Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) DPLK AXA Mandiri, Anda juga bisa melakukan penarikan iuran sebagian 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun dan setiap penarikan maksimal sebesar 50% dari akumulasi iuran sendiri. Dengan begitu, Anda bisa menggunakannya untuk modal usaha atau kebutuhan darurat lainnya selama mempersiapkan dana pensiun.
Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi kesehatan dan program DPLK dengan Life Planner dan Financial Advisor AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: