Aset Penerbit

Aset Penerbit

null Merasa Tertipu Asuransi Unit Link? Ini Penjelasannya!
Berita Inspirasi

Merosotnya nilai investasi bahkan terjun bebas saat pandemi Covid-19 ini membuat banyak orang panik, dan segera berusaha untuk menyelamatkan investasinya. Tak terkecuali mencairkan manfaat investasi dalam produk asuransi jenis unit link.

Unit link atau jenis asuransi dengan manfaat investasi adalah jenis produk yang banyak di jual di Indonesia. Tetapi masih banyak orang yang belum paham saat memilih asuransi unit link sebagai perlindungan. Sehingga banyak orang merasa tertipu, apalagi jika informasi yang diberikan oleh penjual asuransi tidak tepat.

Dikutip dari Wartaekonomi.co.id, penasihat keuangan Mada Aryanugraha menyatakan unit link merupakan jenis asuransi dengan manfaat investasi yang memiliki masa perlindungan sangat panjang dan bukan untuk tujuan konsumtif. Investasi di unit link tidak bisa dipastikan karena investasinya ditempatkan di reksadana, nilainya pun sangat dipengaruhi oleh fluktuasi investasi di pasar.

Mada menambahkan, investasi dalam unit link bukan untuk dikonsumsi karena tujuan utamanya mempertahankan pertanggungan asuransi hingga 99 tahun. Oleh karena itu, ketika nasabah unit link mengambil dana investasi yang sudah terbentuk di dalam asuransi, usia asuransinya menjadi pendek. Bahkan, di tahun-tahun tertentu nilai investasinya bisa menjadi nol.

“Ketika nasabah membayar premi karena hasil investasi sangat rendah, sementara biaya asuransi terus diterapkan, dana yang tersedia di hasil investasi pun menjadi minus dan nasabah akan diminta untuk membayar premi lagi. Karena itu, unit link itu menjadi investasi jangka panjang, tidak bisa diambil dalam jangka pendek,” jelas Mada.

Berdasarkan jangka waktu pertanggungan asuransi yang sangat panjang hingga 99 tahun. Mada kembali menjelaskan jika unit link menjadi cocok untuk masyarakat dengan kebutuhan tertentu sebagai investasi jangka panjang. Tetapi untuk masyarakat yang memiliki keterbatasan pendapatan unit link bisa menjadi produk asuransi yang mahal.

Sumber: Wartakota.co.id

Terkait Aset