18 Daftar Penyakit Orang Tua & Tips Mencegahnya Sejak Dini
Artikel Inspirasi
09 September 2026
Share This Article :
Seiring bertambahnya usia, tubuh akan mengalami berbagai perubahan yang membuat seseorang lebih rentan terhadap masalah kesehatan. Tidak heran jika ada beberapa penyakit orang tua yang lebih sering muncul pada usia senja, mulai dari penyakit kronis hingga gangguan yang memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Rangkuman:
Penurunan kualitas hidup pada lansia sering terjadi karena fungsi organ tubuh, sistem imun, serta metabolisme mulai mengalami penurunan seiring proses penuaan. Akibatnya, lansia menjadi lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus dari diri sendiri maupun keluarga.
Karena itu, penting bagi keluarga maupun lansia untuk memahami daftar penyakit orang tua yang umum terjadi di usia senja serta mengetahui langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Dengan pengetahuan yang tepat, risiko penyakit dapat ditekan sehingga lansia tetap dapat menjalani masa tua dengan lebih sehat dan berkualitas.
Makin tua usia, makin besar juga risiko seseorang terkena penyakit. Hal ini terjadi dikarenakan fungsi tubuh akan menurun sehingga kesulitan untuk menangkal berbagai jenis penyakit. Dilansir dari Hello Sehat, berikut beberapa masalah kesehatan pada lansia yang sering terjadi dan perlu Anda waspadai.
Memasuki usia 65 tahun ke atas, lansia lebih rentan mengalami malnutrisi. Ketidakseimbangan asupan gizi lansia ini bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti sistem imun dan otot lemah. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan malnutrisi pada lansia seperti demensia, depresi, pantangan makanan tertentu, terbatasnya interaksi sosial, hingga berkurangnya pemasukan. Menerapkan pola makan sehat dan pengawasan yang tepat dapat membantu lansia mengatasi masalah kesehatan ini.
Kehilangan kemampuan mendengar umumnya terjadi ketika memasuki usia 70 tahun ke atas. Namun, tidak sedikit orang yang sudah mengalaminya sejak usia 50 tahun. Sebagian besar penyebab lansia mengalami kondisi ini adalah presbikusis yaitu suatu kondisi saat sel-sel rambut kecil pada telinga bagian dalam sudah mulai aus. Kondisi ini bisa diatasi dengan penggunaan alat bantu dengar sesuai saran dari dokter.
Meski sering dianggap sepele, masalah gigi dan mulut merupakan penyakit orang tua yang perlu diwaspadai, terutama ketika memasuki usia 65 tahun ke atas. Pada usia ini, lansia sudah tidak memiliki gigi aslinya hingga harus rela ompong atau menggunakan gigi palsu yang tidak selalu nyaman selama digunakan. Tidak hanya itu, gangguan kesehatan gigi dan mulut berkaitan dengan kondisi kesehatan yang cukup serius, seperti kanker mulut.
Katarak ditandai dengan munculnya selaput berwarna putih pada lensa mata yang menyebabkan pandangan terasa berkabut atau berasap. Penuaan adalah penyebab utama masalah kesehatan mata pada lansia. Selain itu, merokok, diabetes, dan paparan sinar ultraviolet juga bisa meningkatkan risiko penyakit mata ini. Umumnya, diperlukan operasi katarak bila penglihatan makin memburuk dan mengganggu aktivitas. Operasi bisa selesai dalam waktu satu jam dan pasien bisa langsung pulang ke rumah.
Penyakit ini banyak terjadi pada lansia berusia 50 tahun dan berisiko memicu kebutaan. Degenerasi makula terjadi secara bertahap. Seiring bertambah parahnya penyakit ini, kemampuan lansia untuk melihat dengan jelas akan makin berkurang.
Radang sendi atau arthritis adalah peradangan pada satu atau lebih sendi. Penyakit lansia ini ditandai dengan rasa nyeri, kekakuan, dan bengkak pada sendi. Arthritis membuat ruang gerak lansia menjadi terbatas. Oleh karena itu, penting bagi lansia berolahraga teratur dan menjaga berat badan agar gangguan sendiri ini tidak bertambah parah.
Osteoporosis adalah pengeroposan tulang yang menyebabkannya menjadi lebih rapuh. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak dialami lansia, ketika mulai memasuki usia 70 tahun, terutama wanita. Penyebab terjadinya osteoporosis pada usia lanjut adalah karena adanya perubahan secara alami dalam proses pembentukan jaringan tulang.
Sejak lahir hingga usia 30 tahun, jaringan tulang yang diproduksi lebih banyak dibandingkan jaringan yang hilang. Sementara ketika memasuki usia 30 tahun, produksi jaringan tulang mulai berkurang, sehingga menyebabkan tulang menjadi keropos dan rapuh. Namun, dengan menjaga kesehatan tulang sejak masih muda, bisa mengurangi risiko terjadinya osteoporosis. Masalah ini dapat diobati dengan obat-obatan dan suplemen seperti kalsium dan vitamin D. Latihan menahan beban dan latihan yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan otot juga dapat membantu mencegah osteoporosis.
Infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan oleh bakteri yang berkembang di dalam kandung kemih atau ginjal. Penyakit ini sering dialami oleh lansia dengan kondisi tubuh yang lemah. ISK pada lansia dengan sistem imun lemah bisa berakibat fatal. Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menyebutkan bahwa infeksi saluran kemih meningkatkan risiko kematian hingga sebesar 22,7% pada lansia. Oleh karena itu, segera konsultasi jika terjadi tanda infeksi saluran kemih seperti nyeri saat buang air kecil serta urine keruh dan berbau tajam.
Inkontinensia urine adalah kondisi saat seseorang tidak bisa mengontrol buang air kecil. Lansia yang mengalaminya bisa mengompol atau buang air kecil di tempat yang tidak semestinya. Meski kondisi ini dapat terjadi pada siapa pun, inkontinensia urine lebih banyak terjadi pada wanita. Pengobatan untuk kondisi ini sebenarnya tergantung tingkat keparahannya, mulai perubahan gaya hidup, penggunaan obat, hingga operasi dengan konsultasi dokter.
Memasuki usia 60 tahun, risiko lansia untuk mengalami masalah ginjal semakin meningkat. Penyebabnya adalah karena ginjal juga ikut menua seiring dengan pertambahan usia. Penyakit pada lansia ini terjadi secara bertahap sehingga membuat kebanyakan orang yang tidak menyadari penyakit ini sampai akhirnya sudah semakin parah. Tidak hanya itu, penyakit ginjal kronis juga bisa meningkatkan risiko lansia untuk mengalami penyakit serius lainnya seperti penyakit jantung dan gagal ginjal.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah yang mencapai nilai 130/80 mmHg atau lebih. Hipertensi terjadi saat jantung memompa banyak darah tetapi arteri seseorang terlalu sempit sehingga menahan aliran darah. Hipertensi dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius pada lansia, seperti stroke dan serangan jantung.
Penyakit ini umumnya tidak bergejala, namun beberapa penderitanya dapat mengalami keluhan pusing, mimisan, atau napas terasa berat. Hipertensi yang tidak diobati bisa menyebabkan serangan jantung, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, dan stroke. Untuk mengatasi hipertensi dan membantu mengontrol tekanan darah, dokter biasanya akan meresepkan obat penurun tekanan darah.
Penyakit kardiovaskular adalah serangkaian gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Berbagai penyakit kardiovaskular yang bisa menyerang lansia di antaranya adalah penyakit jantung koroner, arteri koroner, hipertensi (tekanan darah tinggi), atau gagal jantung. Ada berbagai faktor risiko yang bisa menyebabkan penyakit jantung seperti hipertensi, diabetes melitus, obesitas, merokok, dan usia. Adapun bertambahnya usia menjadi faktor risiko penyakit jantung yang tidak dapat dihindari.
Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah di dalam tubuh. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol ini dapat membuat penderita diabetes kerap merasa haus. Mereka menjadi sering minum dan otomatis akan sering buang air kecil. Dalam jangka panjang, penyakit ini dapat merusak pembuluh darah dan saraf yang menyebabkan penderitanya sering mengalami kesemutan, mati rasa, atau bahkan sering mengompol akibat kerusakan pada saraf yang mengontrol proses berkemih.
Kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor risiko yang sering dimiliki oleh lansia. Kolesterol yang terlalu tinggi dapat membentuk plak pada pembuluh arteri yang dapat menyebabkan pembuluh arteri menyempit sehingga menyumbat aliran darah, baik yang hendak menuju atau keluar dari jantung. Jika terus-menerus dibiarkan, kolesterol tinggi dapat menyebabkan berbagai penyakit jantung.
Stroke adalah serangan otak yang bisa menyerang orang dengan usia berapapun, namun cukup sering terjadi pada lansia. Saat mengalaminya, lansia membutuhkan pertolongan cepat untuk meminimalkan kerusakan otak.
Kondisi ini terjadi terjadi saat darah berhenti mengalir di salah satu area otak karena gangguan pada salah satu pembuluh darah. Serangan ini dapat berdampak serius karena sel-sel otak yang kekurangan oksigen dalam darah, dapat mati dengan sangat cepat. Penyakit ini biasanya ditandai dengan mati rasa pada wajah, lengan, atau kaki pada salah satu sisi tubuh. Serangan stroke juga bisa memicu sakit kepala tiba-tiba dan kesulitan berbicara.
Pertambahan usia ternyata meningkatkan potensi pertumbuhan sel abnormal penyebab kanker. Menurut data dari National Cancer Institute, sekitar 1.000 dari 100.000 orang berusia 60 tahun ke atas terkena penyakit yang juga disebut tumor ganas ini. Beberapa jenis kanker yang lebih sering dialami oleh lansia yakni kanker kulit, kanker paru, kanker prostat, kanker kandung kemih, dan kanker perut.
Penyakit alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia (pikun) yang paling umum dialami lansia. Masalah ini bersifat progresif atau berkembang secara bertahap. Penyakit Alzheimer membuat pengidapnya sulit mengingat dan berpikir serta mengalami perubahan perilaku.
Faktor risiko dari penyakit ini adalah usia, riwayat kesehatan keluarga, hingga faktor keturunan. Meski begitu, Anda bisa melakukan beberapa kebiasaan sederhana untuk mencegah terjadinya demensia seperti berolahraga teratur, cukup tidur, dan diet sehat.
Penyakit lain yang mungkin terjadi pada lansia adalah penyakit Parkinson atau gangguan saraf progresif yang dapat memengaruhi gerakan tubuh. Gangguan ini menyebabkan tremor, kekakuan, dan gerakan yang tersendat-sendat pada lansia. Biasanya, penyakit parkinson terjadi lansia setelah memasuki usia 60 tahun dan risikonya lebih besar pada pria dibandingkan dengan wanita.
Menjaga kesehatan di usia lanjut memang bukan hal yang mudah. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan, mulai dari berkurangnya kekuatan otot, gangguan daya ingat, hingga meningkatnya risiko penyakit. Namun, dengan rutinitas perawatan harian yang sederhana, banyak masalah kesehatan tersebut bisa dicegah atau diperlambat. Dilansir dari Alodokter, berikut beberapa cara mencegah penyakit di usia senja.
Menjaga pola makan bergizi seimbang sangat penting untuk mendukung kesehatan lansia. Pastikan asupan hariannya mengandung serat, protein, vitamin, dan mineral yang cukup seperti dari sayuran hijau, buah segar, ikan, telur, kacang-kacangan, dan susu rendah lemak.
Batasi konsumsi makanan olahan, gorengan, daging berlemak, makanan tinggi gula, serta makanan asin seperti keripik atau makanan kaleng. Beragam jenis makanan ini dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Selain itu, penting juga untuk membantu lansia mengatur porsi makan, menjaga jadwal makan teratur, dan menghindari kebiasaan melewatkan sarapan. Pastikan juga untuk mengonsumsi banyak minum air mineral dan hindari minuman yang terlalu dingin dan manis.
Aktif bergerak dan rutin berolahraga tidak hanya menjaga kesehatan lansia, tapi juga menambah usia harapan hidup. Beberapa manfaat olahraga untuk kesehatan lansia yaitu meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan produksi hormon endorfin, menjaga berat badan ideal, meningkatkan kekuatan tulang, dan menjaga kesehatan dan fungsi otak.
Waktu olahraga ideal lansia adalah sebanyak 30 menit per hari, sebanyak lima hari dalam seminggu. Pilihan olahraga untuk lansia diantaranya berenang, menari, jalan cepat, bersepeda, naik-turun tangga, squat, latihan keseimbangan, yoga, dan peregangan. Selain olahraga, lansia tetap bisa aktif bergerak dengan melakukan kegiatan lain seperti berkebun, bermain bersama cucu, atau membuat kerajinan tangan.
Cukup banyak orang berusia lanjut yang mengalami gangguan tidur, seperti insomnia, mengantuk di siang hari, dan sering terbangun tengah malam. Untuk mengatasinya, cobalah lakukan kebiasaan tidur sehat untuk memastikan bahwa lansia memiliki tidur yang cukup dan berkualitas, minimal 7-8 jam setiap malam.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu lansia tidur nyenyak, antara lain sebagai berikut.
Pemeriksaan kesehatan rutin membantu lansia mendeteksi dini masalah kesehatan, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Pasalnya, pertambahan usia dapat meningkatkan risiko penyakit akibat sistem imun yang mulai melemah.
Idealnya, pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan 1–3 bulan sekali untuk memonitor tekanan darah, kadar gula, kolesterol, serta fungsi organ tubuh. Jika memiliki kondisi tertentu seperti hipertensi atau diabetes, pastikan obat diminum sesuai anjuran dokter dan tidak melewatkan jadwalnya.
Orang dengan berat badan berlebih biasanya memiliki risiko yang lebih besar terhadap penyakit diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, beberapa jenis kanker, gangguan tidur, hingga osteoarthritis. Namun, berat badan rendah pada lansia juga kurang baik. Pasalnya, lansia dengan berat badan kurang memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi ketimbang lansia yang obesitas atau memiliki berat badan normal. Oleh sebab itu, lansia perlu mengatur pola makan untuk menjaga berat badan berada pada angka normal, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.
Jaga kebersihan tubuh lansia dengan mandi secara teratur, minimal dua kali sehari. Ganti pakaian yang bersih dan jaga kebersihan mulut, baik dengan menyikat gigi maupun membersihkan gigi palsu. Selain itu, penting untuk memastikan lingkungan rumah selalu bersih, memiliki ventilasi yang baik, lantai tidak licin, serta barang yang tertata rapi agar lansia terhindar dari risiko jatuh atau infeksi. Jika menggunakan kursi roda atau tongkat, pastikan untuk rutin membersihkannya agar tetap higienis dan aman digunakan.
Bantu lansia melakukan hobi atau kegiatan yang disukai untuk mengisi waktu dan menjaga pikiran tetap aktif. Contohnya, menemani berkebun di pekarangan rumah, menyediakan bacaan ringan, atau mengajak menonton film favorit bersama keluarga. Kegiatan lain yang bisa dilakukan, seperti bermain catur, merangkai bunga, membuat kue, atau mendengarkan musik kesukaan. Kegiatan ini dapat membuat lansia lebih relaks, terhindar dari stres, dan tetap merasa aktif.
Luangkan waktu setiap hari untuk berbincang dengan lansia, meski hanya 10–15 menit. Dengarkan cerita mereka tentang masa lalu, keluarga, atau pengalaman hidup yang berkesan. Tunjukkan perhatian dengan menanyakan kabar, membahas topik ringan, atau sekadar menonton acara televisi bersama. Interaksi sederhana ini dapat membuat lansia merasa dihargai, mengurangi rasa kesepian, dan membantu menjaga kesehatan mental agar terhindar dari depresi.
Seiring bertambahnya usia, salah satu tantangan lansia adalah menjaga hubungan atau koneksi dengan orang lain, khususnya teman sebaya. Ada banyak faktor yang memengaruhi mulai dari setelah pensiun dari pekerjaan, menderita penyakit serius, hingga teman sebaya yang satu per satu meninggal dunia. Padahal, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain merupakan salah satu cara menjaga kesehatan lansia.
Tidak hanya tubuh, otak lansia juga perlu latihan agar tetap aktif untuk menjaga kesehatan otak dan ingatan lansia tetap kuat serta mencegah penurunan kemampuan kognitif dan gangguan ingatan pada lansia. Hal ini khususnya penting bagi lansia yang merasa pekerjaannya tidak lagi memberikan tantangan, atau pada mereka yang sudah pensiun. Ada banyak kegiatan atau permainan untuk melatih otak lansia seperti bermain puzzle atau teka-teki silang di saat senggang. Lansia juga bisa melatih ingatan dengan mengambil rute berbeda saat jalan-jalan pagi.
Minum suplemen bisa membantu lansia tetap sehat, namun tetap dibarengi dengan gaya hidup sehat seperti makan makanan bergizi dan olahraga ringan. Dua suplemen yang sering dianjurkan untuk lansia adalah omega-3 dan vitamin D.
Omega-3 bisa membantu menjaga daya ingat dan mengurangi risiko lansia jatuh, sedangkan vitamin D bagus untuk menjaga tulang dan otot tetap kuat. Tubuh dari lansia yang rutin minum omega-3 dan vitamin D sambil olahraga tiga kali seminggu umumnya menua lebih lambat dibandingkan dengan yang tidak.
Menghindari rokok dan alkohol sangat penting untuk menjaga kesehatan lansia. Rokok bisa merusak paru-paru, jantung, dan otak. Lansia yang berhenti merokok diketahui bisa hidup lebih lama dan memiliki risiko lebih kecil terkena penyakit jantung, kanker, dan demensia. Bahkan dalam waktu beberapa minggu setelah berhenti, tubuh sudah mulai membaik karena peredaran darah jadi lebih lancar dan nafas lebih lega. Sementara itu, alkohol bisa meningkatkan risiko kerusakan otak, demensia, dan penyakit hati. Tidak ada jumlah alkohol yang benar-benar aman bagi lansia, apalagi jika sudah punya penyakit kronis.
Menerapkan berbagai tips mencegah penyakit orang tua dapat membantu lansia menjaga kualitas hidup di usia senja. Namun, risiko kehidupan tetap bisa terjadi seiring bertambahnya usia, sehingga penting juga untuk mempersiapkan perlindungan finansial bagi diri sendiri maupun keluarga. Salah satu cara yang dapat dipertimbangkan adalah memiliki asuransi jiwa.
Selain memberikan perlindungan finansial bagi keluarga jika terjadi risiko yang tidak terduga, asuransi jiwa juga dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang agar masa tua dapat dijalani dengan lebih tenang dan terencana.
Salah satu produk asuransi yang bisa jadi pertimbangan adalah Asuransi Generation Secure Plus dari AXA Mandiri. Asuransi Generation Secure Plus sebagai asuransi jiwa yang dapat melindungi seumur hidup yang memiliki jaminan pengembalian premi dan perlindungan hingga usia 85 tahun atau 30 tahun polis. Dengan asuransi ini, Anda bisa lebih tenang dalam menjalani hidup dan mencapai mimpi di masa depan.
Untuk konsultasi lebih lanjut dan membangun planning masa depan dengan asuransi jiwa, hubungi Financial Advisor AXA Mandiri. Kami akan membantu Anda untuk memahami produk asuransi terbaik sesuai dengan kebutuhan Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
A: Penyakit orang tua adalah berbagai gangguan kesehatan yang lebih sering terjadi pada lansia akibat penurunan fungsi organ, sistem imun, dan metabolisme seiring bertambahnya usia.
A: Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh dalam memperbaiki sel, melawan infeksi, dan menjaga fungsi organ menurun. Hal ini membuat lansia lebih rentan terhadap berbagai penyakit kronis maupun degeneratif.
A: Penyakit seperti stroke, penyakit jantung, kanker, dan demensia termasuk yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius, penurunan kualitas hidup, hingga kematian.
A: Sangat penting. Aktivitas fisik membantu menjaga kekuatan otot, kesehatan jantung, fungsi otak, serta meningkatkan daya tahan tubuh dan kualitas hidup lansia.
A: Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi penyakit sejak dini, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
A: Ya. Kesehatan mental sangat penting karena lansia rentan mengalami kesepian, depresi, dan penurunan fungsi kognitif. Interaksi sosial dan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menjaga kesehatan mental.
A: Bisa. Menerapkan gaya hidup sehat sejak usia muda seperti pola makan seimbang, olahraga rutin, dan menghindari kebiasaan buruk dapat menurunkan risiko penyakit saat usia lanjut.
Sumber:
Saya Berminat
Lihat Produk
Field ini diperlukan.
Dengan ini Saya menyatakan bahwa:
Saya telah membaca, memahami dan memberikan persetujuan kepada PT AXA Mandiri Financial Services untuk memproses Data Pribadi Saya sesuai prinsip Pelindungan Data Pribadi pada Kebijakan Privasi yang dapat diperbaharui dari waktu ke waktu.
Saya telah memahami mengenai tujuan dan konsekuensi dari pengumpulan dan pemrosesan Data Pribadi Saya, serta hak Saya sebagai Subjek Data Pribadi.
Saya bersedia dihubungi untuk mendapatkan informasi produk dan/layanan lebih lanjut dari PT AXA Mandiri Financial Services.