Waspada Kanker Ovarium: Penyebab, Gejala & Pencegahannya!
Artikel Inspirasi
19 Agustus 2026
Share This Article :
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang muncul pada ovarium atau indung telur, yaitu organ reproduksi wanita yang berfungsi menghasilkan sel telur dan hormon. Penyakit ini sering disebut sebagai “silent killer” karena gejalanya cenderung samar dan mirip dengan gangguan kesehatan lain, sehingga kerap terlambat disadari.
Rangkuman:
Gejala kanker ovarium dapat berbeda pada setiap penderita, namun umumnya meliputi perut terasa kembung, nyeri panggul, cepat kenyang, sering buang air kecil, hingga perubahan pola menstruasi. Meski terlihat ringan, keluhan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan karena bisa menjadi tanda adanya gangguan pada organ reproduksi.
Mengetahui faktor risiko, gejala, serta cara mendeteksi kanker ovarium sejak dini sangat penting untuk membantu meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Dengan memahami kondisi ini lebih awal, Anda dapat lebih waspada terhadap perubahan pada tubuh dan segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala mencurigakan.
Kanker ovarium yang cepat dideteksi dan ditangani dapat meningkatkan peluang penderita untuk bertahan hidup. Hampir separuh penderita kanker ini bertahan hidup setidaknya 5 tahun setelah terdiagnosis. Sedangkan, sepertiga penderita memiliki harapan hidup setidaknya selama 10 tahun.
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang muncul di jaringan ovarium atau indung telur wanita. Ovarium adalah organ reproduksi wanita yang berbentuk kecil dan terletak di kedua sisi rahim. Mereka bertanggung jawab untuk menghasilkan sel telur dan hormon wanita seperti estrogen dan progesteron.
Kanker ovarium sering disebut “silent killer” karena gejalanya tidak jelas atau muncul pada stadium lanjut penyakit. Padahal, kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal lebih mudah diatasi daripada kanker ovarium yang baru terdeteksi pada stadium lanjut. Kanker ini juga menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker terbanyak yang menyerang wanita di Indonesia.
Kanker ovarium terjadi ketika DNA di sel-sel ovarium mengalami perubahan atau mutasi. Mutasi tersebut menyebabkan sel ovarium tumbuh tidak normal dan tidak terkendali. Hingga saat ini, penyebab pasti kanker ovarium belum dipahami sepenuhnya. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko menderita kanker ovarium. Dilansir dari Halodoc, berikut beberapa penyebab yang dapat meningkatkan risiko kanker ovarium.
Kanker ovarium jarang menimbulkan gejala khas pada stadium awal. Oleh sebab itu, kanker ovarium biasanya baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut atau sudah menyebar ke organ lain. Gejala kanker ovarium stadium lanjut juga tidak terlalu spesifik dan bisa mirip dengan gejala penyakit lain. Dilansir dari Alodokter, berikut beberapa gejala kanker ovarium yang perlu diwaspadai, terutama jika sudah menetap lebih dari 2-3 minggu.
Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini tidak spesifik untuk kanker ovarium dan dapat disebabkan oleh kondisi lain yang tidak berbahaya. Namun, jika kamu mengalami gejala-gejala ini secara persisten dan tidak membaik, segera berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Penanganan kanker ovarium tergantung pada stadium kanker, kondisi pasien, dan apakah pasien tetap ingin memiliki keturunan. Metode penanganannya adalah operasi, kemoterapi, ataupun radioterapi. Dilansir dari Alodokter, berikut beberapa penjelasan mengenai cara pengobatan kanker ovarium.
Prosedur operasi biasanya meliputi pengangkatan kedua ovarium, tuba falopi, rahim, dan omentum (jaringan lemak dalam perut). Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker.
Perlu diketahui, beberapa jenis operasi untuk mengatasi kanker ovarium bisa membuat pasien tidak dapat memiliki anak lagi. Oleh sebab itu, konsultasikan dengan dokter mengenai manfaat dan risiko operasi yang akan dilakukan. Namun, jika kanker terdeteksi sejak dini, kemungkinan penderita kanker ovarium hanya perlu menjalani pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi sehingga kemungkinan memiliki keturunan masih ada.
Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk membunuh sel kanker yang tersisa setelah operasi dilakukan. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan memonitor perkembangan pengidap secara rutin untuk memastikan keefektifan obat dan respons tubuh terhadap obat.
Prosedur ini juga dapat diberikan sebelum operasi pada pengidap stadium lanjut dengan tujuan mengecilkan tumor sehingga memudahkan prosedur pengangkatan. Prosedur kemoterapi biasanya memiliki efek samping seperti tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, rambut rontok, dan meningkatnya risiko infeksi.
Radioterapi adalah penggunaan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker. Radioterapi umumnya dilakukan pada pasien kanker ovarium stadium awal setelah operasi. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.
Sama seperti kemoterapi, radioterapi dapat diberikan oleh dokter baik setelah maupun sebelum operasi. Prosedur radioterapi pada pasien kanker ovarium stadium akhir dilakukan untuk membunuh sel kanker yang sudah menyebar ke jaringan tubuh lain. Efek sampingnya juga serupa dengan kemoterapi, terutama terjadinya kerontokan rambut.
Terapi maintenance adalah pengobatan yang diberikan untuk mencegah kembalinya kanker ovarium setelah perawatan awal dengan kemoterapi. Tujuannya adalah untuk memperpanjang waktu antara perawatan awal dan kekambuhan.
Umumnya, terapi maintenance diberikan pada pasien kanker ovarium stadium 3 dan 4 yang telah menjalani operasi atau kemoterapi dan menunjukkan respons lengkap atau respons sebagian.
Respons lengkap artinya tanda-tanda keberadaan kanker sudah tidak lagi ditemukan setelah terapi. Sementara respons sebagian berarti pasien sudah mengalami perbaikan, tetapi sel-sel kanker belum sepenuhnya hilang dari tubuh.
Tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker ovarium, tetapi ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena kanker ovarium. Dilansir dari Bumame, berikut cara mencegah kanker ovarium yang bisa Anda terapkan.
Selain itu, diskusikan terlebih dahulu dengan dokter jika Anda berencana menjalani terapi pengganti hormon untuk meredakan gejala menopause. Terapi ini berisiko menyebabkan kanker ovarium, terutama jika Anda memiliki keluarga dengan riwayat kanker ovarium atau kanker payudara.
Selain cara di atas, Anda juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk menurunkan risiko kanker ovarium sejak dini. Selain itu, Anda juga perlu mulai mempertimbangkan asuransi kesehatan. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan risiko penyakit kritis seperti kanker datang.
Biaya pengobatan kanker yang tidak sedikit juga dapat menjadi beban finansial bagi pasien dan keluarga. Oleh karena itu, memiliki perlindungan melalui asuransi kesehatan dan asuransi penyakit kritis menjadi langkah bijak untuk membantu mempersiapkan perlindungan finansial di masa depan. Dengan perlindungan yang tepat, Anda dapat lebih tenang dalam menjalani pemeriksaan maupun pengobatan tanpa harus terlalu khawatir terhadap biaya medis yang besar.
Salah satu perlindungan yang perlu dipertimbangkan adalah memiliki Asuransi Mandiri Proteksi Kanker Dini dari AXA Mandiri yang memberikan proteksi menyeluruh terhadap risiko kanker sejak dini. Tersedia manfaat rawat inap dan rawat jalan hingga Rp100 juta per tahun, ditambah manfaat tindakan bedah, konsultasi psikiater, santunan harian, serta pengembalian premi hingga 30% jika tidak ada klaim, dengan masa perlindungan 10 tahun.
Konsultasikan perencanaan finansial Anda dalam memilih produk asuransi dengan Financial Advisor AXA Mandiri yang akan membantu Anda memahami manfaat asuransi dan memberikan solusi terbaik sesuai dengan kondisi finansial Anda. Kunjungi situs resmi AXA Mandiri atau hubungi 1500803 untuk informasi lebih lanjut.
A: Kanker ovarium adalah jenis kanker yang berkembang di ovarium atau indung telur, yaitu organ reproduksi wanita yang berfungsi menghasilkan sel telur dan hormon.
A: Gejala awal kanker ovarium dapat berupa perut kembung terus-menerus, nyeri panggul, cepat kenyang, mual, sering buang air kecil, dan perubahan pola menstruasi.
A: Penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui. Namun, beberapa faktor risiko meliputi usia, riwayat keluarga, mutasi genetik BRCA, obesitas, endometriosis, dan kebiasaan merokok.
A: Peluang kesembuhan kanker ovarium lebih besar jika terdeteksi dan ditangani sejak dini. Penanganan biasanya meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
A: Risiko kanker ovarium dapat dikurangi dengan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, berhenti merokok, mengonsumsi makanan sehat, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Sumber:
Saya Berminat
Lihat Produk
Field ini diperlukan.
Dengan ini Saya menyatakan bahwa:
Saya telah membaca, memahami dan memberikan persetujuan kepada PT AXA Mandiri Financial Services untuk memproses Data Pribadi Saya sesuai prinsip Pelindungan Data Pribadi pada Kebijakan Privasi yang dapat diperbaharui dari waktu ke waktu.
Saya telah memahami mengenai tujuan dan konsekuensi dari pengumpulan dan pemrosesan Data Pribadi Saya, serta hak Saya sebagai Subjek Data Pribadi.
Saya bersedia dihubungi untuk mendapatkan informasi produk dan/layanan lebih lanjut dari PT AXA Mandiri Financial Services.