Asset Publisher

Asset Publisher

null Keberanian, Hasil dari Kemenangan Melawan Rasa Takut
Berita Inspirasi

Saya belajar bahwasanya keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemenangan keberanian atas rasa takut. Orang yang berani bukanlah orang-orang yang tak memiliki rasa takut, tapi mereka adalah orang-orang yang berhasil menundukkan rasa takut yang dimilikinya. – Nelson Mandela

Tiap orang pasti punya rasa takut, tak kecuali seorang atlet. Rasa takut para atlet sering kali muncul saat menghadapi pertandingan. Ketakutan para atlet pada umumnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori (Cratty, 1973):

  • Takut gagal dalam pertandingan.
  • Takut akan akibat sosial atas mutu prestasi mereka.
  • Takut kalau cedera atau mencederai lawan.
  • Takut fisiknya tidak akan mampu menyelesaikan tugasnya atau pertandingan dengan baik.
  • Takut akan kemenangan.

Tetapi menurut hasil penelitian psikologi, kecederungan ketakutan seorang atlet ada pada akibat sosial yang akan diperoleh atas mutu prestasi mereka. Misalnya takut gagal memenuhi harapan pelatih, induk organisasi olah raga, pemerintah, takut dicemooh, dikritik atau dikecam masyarakat.

Perjalanan Susi Susanti

Bicara soal atlet, Indonesia yang punya seorang Susi Susanti dengan segudang prestasi hingga berhasil merebut medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Keberhasilannya merebut berbagai gelar juara tak serta-merta hadir tanpa ada cerita seru dibaliknya. Awal cerita ketika Susi kecil yang baru saja memasuki sekolah atlet dan sempat merasa bosan. Berkat motivasi dari sang Ayah dan seorang legenda bulu tangkis Rudy Hartono, kepercayaan dirinya pun bangkit dan akhirnya berhasil merebut berbagai gelar juara dalam berbagai ajang bulu tangkis junior.

Berbekal gelar juara tersebut, dirinya berhasil masuk ke Pelatnas. Tersaring dan berhasil dilatih secara khusus dalam Pelatnas tenyata bukan perkara mudah. Modal deretan prestasi junior ternyata belum cukup, Susi Susanti masih butuh banyak belajar dan bekerja keras. Hingga pada galaran pertama Sudirman Cup tahun 1989, Susi Susanti dipercaya menjadi pemain tunggal putri.

Sebagai pemain baru yang terjun sebagai pebulu tangkis senior, beban Susi Susanti sangat berat karena pertandingan yang akan dihadapinya merupakan penentu kemenangan Indonesia. Tertinggal di babak pertama, lalu tertinggal di babak kedua dan dalam kondisi cemas serta takut sempat membuat banyak orang pupus harapan jika Indonesia bisa jadi juara. Namun, motivasi dari sang pelatih mengembalikan keyakinan dan ketenagan diri Susi Susanti. Pada pertandingan tersebut akhirnya Susi Susanti berhasil mengalahkan lawannya dan Indonesia berhasil menjadi juara dalam ajang Sudirman Cup tersebut.

Keyakinan Susi Susanti Melawan Rasa Takut

Perjalanan karier Susi Susanti sebagai seorang atlet mencapai puncaknya saat dirinya masuk dalam tim nasional bulu tangkis Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992. Pada ajang kompetisi ragam cabang olah raga dunia tersebut, Susi Susanti berhasil melangkah mulus hingga pada akhirnya berhasil masuk ke final melawan pebulu tangkis asal Korea Selatan. Sebelum pertandingan, dalam film Susi Susanti Love all yang sudah tayang di bioskop sejak 24 Oktober lalu. Susi Susanti yang diperankan Laura Basuki menyempatkan diri menelpon sang Ayah karena dirinya merasa takut.

Oleh sang Ayah, Susi Susanti diberi motivasi yang pada akhirnya mengembalikan keyakinan dirinya untuk terus maju dan berjuang melawan rasa takut. Akhirnya dengan keyakinan dan jiwa pantang menyerah tersebut, Susi Susanti berhasil merebut emas dan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk pertama kalinya dikumandangkan di Olimpiade Barcelona 1992.

Keyakinan untuk terus berjuang dan menghilangkan rasa takut Susi Susanti harusnya bisa jadi pelajaran berharga untuk kita. Keberanian dan keyakinan untuk menghadapi lawan akhirnya mengalahkan rasa takutnya. Untuk itu mari simak video Susi Susanti bercerita tentang caranya menghadapi rasa takut yang dipersembahkan oleh AXA Mandiri di sini! #KnowYouCan

Simak juga video Titik Awal Susi Susanti di sini.

Related Assets